Sejarah Penetasan Itik Di Desa Mamar
Sejarah Awal dan Masa Sulit
Desa Mamar telah berdiri sejak masa perjuangan kemerdekaan. Pasca kemerdekaan, desa ini sempat berada dalam kondisi sangat miskin hingga memicu migrasi warganya ke daerah lain demi mencari penghidupan yang lebih baik. Saat itu, sebagian besar masyarakat hanya mengandalkan sektor pertanian dan perikanan yang hasilnya belum mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Awal Mula Peternakan dan Perkembangan Metode Penetasan
Sebagai upaya meningkatkan perekonomian, sekitar tahun 1963 masyarakat Desa Mamar mulai merintis usaha peternakan itik. Pada mulanya, metode penetasan telur dilakukan secara alami menggunakan pengeraman itik mentok, yang bertahan hingga tahun 1979. Memasuki tahun 1980, para peternak beralih ke sistem penetasan bronjong yang diadopsi dari Bali. Koperasi Sekawan Desa Mamar bahkan mengundang instruktur asal Bali, Pak Made, untuk melatih masyarakat setempat.
Perjuangan, Keberhasilan, dan Apresiasi Pemerintah
Proses adopsi teknologi baru ini tidak berjalan mudah. Banyak peternak mengalami kerugian hingga terpaksa menjual harta benda mereka. Namun, berkat ketangguhan dan semangat pantang menyerah, masyarakat akhirnya berhasil menguasai teknik tersebut. Keberhasilan ini membawa dampak positif yang signifikan: perekonomian warga melonjak hingga mampu membiayai pendidikan anak-anak sampai jenjang perguruan tinggi, serta mendorong perbaikan infrastruktur jalan dari Kota Amuntai menuju Kecamatan Amuntai Selatan. Prestasi ini bahkan menarik perhatian Pemerintah Pusat, ditandai dengan kunjungan kerja Wakil Presiden Adam Malik pada tahun 1981/1982 dan Menteri Penerangan Harmoko.
Modernisasi dengan Sistem Kombinasi
Memasuki era 1990-an, inovasi terus berkembang. Seorang Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) bernama Khairun Nasirin merancang mesin tetas sederhana untuk efisiensi waktu, tenaga, dan kapasitas produksi, tanpa menghilangkan tahapan krusial dari sistem bronjong. Penerapan sistem kombinasi antara mesin tetas modern dan bronjong inilah yang terus dipertahankan oleh para peternak Desa Mamar hingga sekarang.
Statistik Produksi Pembibitan Itik
Jumlah penetas sekarang yang ada di desa Mamar berjumlah sekitar 46 orang dengan total akumulasi kapasitas produksi bibit itik (DOD) per minggu mencapai 100.000 ekor/minggu dengan statistik sebagai berikut:

Grafik 1. Distribusi Jumlah Penetas Berdasarkan Kapasitas (Ekor/Minggu)

Grafik 2. 10 besar Peternak Penetasan itik berdasarkan Kapasitas (ekor/minggu)
Kearifan Lokal Penetasan Itik Alabio di Desa Mamar
1. Pemilihan Telur Tetas
- Pilih telur dari induk itik Alabio yang sehat dan produktif.
- Pilih telur berukuran sedang (tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil).
- Bentuk telur oval simetris (tidak terlalu lonjong maupun terlalu bulat).
- Kerabang (cangkang) telur cenderung tipis. Masyarakat biasanya mengetes kerabang dengan cara diketuk:
- Suara yang terlalu rendah atau melengking menandakan telur tidak layak ditetaskan.
- Suara berfrekuensi sedang menandakan telur berkualitas baik dan siap ditetaskan.
- Lama penyimpanan telur sebelum dimasukkan ke dalam mesin tetas maksimal 7 hari.

Gambar 1. Penyortiran telur sebelum dimasukkan ke mesin tetas
2. Pemasukan Telur ke Dalam Mesin Tetas
Sebelum telur dimasukkan, suhu mesin tetas diatur terlebih dahulu pada kisaran 38–39 °C (sekitar 101–102 °F).
3. Pembalikan Telur
Telur di dalam mesin tetas dibalik secara berkala, yaitu 2 hingga 3 kali sehari.

Gambar 2. Pembalikan telur di dalam mesin tetas.
4. Candling (Peneropongan Telur)
Proses candling atau peneropongan dilakukan saat telur memasuki usia 5–7 hari di dalam mesin tetas. Tahap ini bertujuan untuk:
- Memilah telur yang dibuahi (fertil) dan tidak dibuahi (infertil).
- Mengidentifikasi telur yang dibuahi tetapi embrionya mati.

Gambar 3. Proses peneropongan telur (candling)
5. Pemindahan Telur ke Bagian Atas Mesin Tetas
Setelah 1 hingga 2 minggu di dalam mesin, peternak Desa Mamar memindahkan telur ke bagian atas luar mesin tetas. Hal ini dilakukan untuk mengoptimalkan kapasitas produksi mesin sekaligus memanfaatkan sisa hangat dari mesin di bawahnya.
- Telur di atas mesin tetap dibalik minimal 2 kali sehari.
- Telur ditutup kain tebal sebanyak 12–15 lapis untuk menjaga kestabilan suhunya.
6. Pemindahan Telur dari Atas Mesin Tetas ke Balai-Balai Penetasan
Setelah berada di atas mesin tetas selama 1 minggu, telur dipindahkan ke balai-balai penetasan sebagai fase akhir proses pemeraman.
- Telur di atas balai-balai dibalik 2–3 kali sehari.
- Setiap kali pembalikan, peternak mengelap telur menggunakan kain basah untuk menjaga kelembapan.
- Telur ditutup 1–3 lapis kain tergantung suhu ruangan, lalu kain diganti dengan yang lebih tipis saat cangkang telur mulai retak.

Gambar 4. Pemindahan telur dari mesin tetas ke balai benetasan yang terletak di atas mesin tetas.

Gambar 5. Pembalikan telur di atas balai penetasan.
7. Sexing DOD (Day Old Duck)
- Setelah anak itik (DOD) menetas dan bulunya mengering, peternak melakukan pemilahan jenis kelamin (jantan dan betina) berdasarkan ciri-ciri berikut:\
- Paruh: Paruh berwarna kusam menandakan jantan, sedangkan paruh berwarna cerah/bening menandakan betina.
- Gerakan Paruh: Gerakan paruh betina cenderung lebih cepat, sedangkan jantan cenderung lebih lambat.
- Suara (Indikator Utama): Suara nyaring/melengking menandakan betina, sedangkan suara serak/parau menandakan jantan.

Gambar 6. Anak itik yang menetas di balai penetasan dan proses sexing
8. Data Daya Tetas dan Bobot DOD
Daya Tetas: Rata-rata mencapai 60–70% dari total telur yang ditetaskan.
Bobot DOD: Berkisar antara 50–60 gram per ekor.
Narasumber:
Arsuni
Peternak/Pengusaha industri penetasan bibit ternak itik
Ketua Kelompok Ternak ‘MANDIRI’, Ds. Mamar
Tim Penyusun:
Bidang Keswan dan Kesmavet dan Bidang Peternakan
Dinas Pertanian, Kabupaten Hulu Sungai Utara
2026
