D. Situasi Kesehatan Hewan

Penyakit hewan yang saat ini ditemukan di Kabupaten Hulu Sungai Utara terdiri dari penyakit hewan endemik dan penyakit hewan yang baru saja masuk ke wilayah ini. Penyakit endemik yang masih ada dan biasa menyerang pada musim tertentu bervariasi tergantung komoditas ternak (Tabel 6). Beberapa dari penyakit endemis ini pada awalnya tidak ditemukan di wilayah ini, namun setelah masuknya penyakit tersebut untuk pertama kalinya, penyakit itu akhirnya menjadi endemis setelah terjadinya wabah yang berulang. Salah satu diantaranya adalah penyakit Avian Influenza (HPAI H5N1). Penyakit endemis lainnya cenderung lebih sedikit kejadian kasusnya, namun pada situasi-situasi tertentu dapat menjadi wabah jika terjadi keadaan yang mendukung.

Semenjak kemunculan penyakit Avian Influenza di Indonesia di tahun 2003, penyakit ini tidak ditemukan di Kabupaten Hulu Sungai Utara sebelum tahun 2006. Ketika itu clade HN51 yang ditemukan adalah clade 2.1 yang menyebabkan wabah pertama HPAI pada ternak ayam di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Beberapa tahun kemudian, di tahun 2014-2015 terjadi wabah HPAI kedua yang disebabkan clade baru 2.3.2 yang menyerang ternak itik. Selama beberapa tahun kemudian, terjadi letupan-letupan kecil kejadian penyakit HPAI baik pada itik maupun ayam setiap tahunnya, sampai kemudian virus ini telah menjadi endemik. Sekarang gelombang penyakit HPAI telah dapat diprediksi secara musiman. Kemunculannya dapat diprediksikan mulai dari Bulan Oktober-November pada awal musim hujan, mencapai puncak pada bulan Januari-Maret saat curah hujan tinggi, dan akan menurun di Bulan April. Sampai saat ini, meskipun penyakit HPAI H5N1 diketahui berpotensi zoonosis, virus ini belum pernah ditemukan menjangkiti manusia di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Meskipun begitu, telah ditemukan clade HPAI H5N1 baru, yaitu clade 2.3.4.4b dari sampel yang diambil dari di Kabupaten Hulu Sungai Utara pada bulan April tahun 2022 (14). World Health Oganization (WHO) dalam rilis dokumen rapid risk assessment telah mengumumkan bahwa terdapat dua kasus fatal yang disebabkan oleh clade HPAI H5N1 baru ini di Benua Asia (15). Walaupun tidak ditemukan penularan langsung dari manusia ke manusia, WHO tetap memberikan peringatan untuk mewaspadai penularan dari hewan ke manusia, terutama dari hewan ternak yang dipelihara manusia. Selain virus HPAI H5N1, dalam penelitian yang dilakukan oleh FAO ECTAD Indonesia pada tahun 2018 di Kabupaten Hulu Sungai Utara, juga ditemukan virus LPAI H9N2 pada burung Belibis (10). Meskipun belum ada bukti secara laboratoris, telah dapat diduga bahwa virus ini mungkin telah beredar pada populasi ternak itik yang dipelihara di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Dalam beberapa tahun terakhir telah muncul beberapa kasus avian influenza dengan mortalitas sangat rendah antara 0 – 0,5%, namun mampu menurunkan produksi telur sampai 0%. Dengan begitu dinamisnya variasi gejala klinis yang bisa jadi disebabkan bukan hanya satu jenis virus saja, sangat diperlukan upaya surveilans yang berkelanjutan dengan didukung diagnosa laboratorik sebagai penentu diagnosa penyakit.   

Tabel 6. Daftar Penyakit Hewan Endemik dan Non-Endemik yang pernah ditemukan di Kabupaten Hulu Sungai Utara

 Komoditas ternak
 SapiKerbauKambingAyamItik 
Jenis penyakit endemikHelminthiasisSurra/ trypanosimiasisScabiesAvian influenzaAvian influenza 
PMKFasciolosisPink EyeNewcastle diseaseNewcastle disease 
SurraSepticaemia EpizooticaOrfCoryza/SnotCoryza/Snot 
 LSDClostridiasis/ Infectious necrotic hepatitisToxoplasmosisCRDCRD 
 BEFPMKPneumoniaHelminthiasisPullorum 
 EnteritisPink eye ColibacillosisKolera unggas 
 JembranaEnteritis Pullorum  
    Kolera Unggas  

Selama beberapa tahun terakhir, terdapat beberapa penyakit hewan baru yang masuk ke wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara, yaitu Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan Lumpy Skin Disease (LSD). PMK pertama kali masuk ke Kabupaten Hulu Sungai Utara di tahun 2022 dan menyerang sapi bali milik peternak di Desa Penyiuran, Kecamatan Sungai Pandan. Penyebab masuknya virus ini diduga berasal dari kambing carrier yang dipelihara di kandang yang berdekatan dengan kandang sapi yang terkena. Pada saat itu kejadian penyakit yang muncul berhasil dilokalisir di tempat kemunculannya sehingga tidak menyebar lebih lanjut. Penyakit ini kemudian muncul kembali di tahun 2024 di Desa Tampakang, Kec. Paminggir. Sumber masuknya penyakit PMK kali ini berasal dari lalu lintas kerbau yang berasal dari luar Kabupaten Hulu Sungai Utara. Meskipun pada saat ini kejadian penyakit PMK telah berhasil dikendalikan, agaknya penyakit ini telah menjadi endemik, sehingga diperlukan program pencegahan yang terus menerus, diantaranya dengan vaksinasi PMK rutin pada hewan rentan. Penyakit LSD masuk ke Kabupaten Hulu Sungai Utara pada tahun 2024, diawali dengan satu kasus terisolir di Desa Pulau Damar, Kec. Banjang. Kasus ini bermula lagi-lagi karena mudahnya lalu lintas ternak antar kabupaten. Memang jika ditinjau secara geografis, antara satu kabupaten dengan kabupaten lainnya yang berdekatan di Provinsi Kalimantan Selatan tidak ada barrier bentang alam yang dapat menjadi pembatas antar kabupaten. Selain itu juga kemudahan transportasi antar kabupaten juga menjadi penyebabnya. Melihat pada sejarah penyakit PMK dan LSD di Kabupaten Hulu Sungai Utara, telah menjadi jelas bahwa lalu lintas ternak masih menjadi penyebab utama penularan penyakit hewan antar wilayah kabupaten. Dengan berbagai keterbatasan dalam upaya pengawasan pengiriman ternak dan upaya meningkatkan wawasan dan kesadaran masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit hewan, diperlukan dukungan berbagai fasilitas penunjang, baik berupa dukungan anggaran, sumber daya manusia, maupun sarana dan prasarana kesehatan hewan yang memadai.   

E. Ketersediaan SDM dan Sarana Prasarana

Meskipun potensi sektor peternakan dapat dikatakan sangat besar, dukungan pemerintah terhadap subsektor ini masih belum maksimal. Hal ini dapat terlihat dari jumlah SDM dan sarana prasarana pendukung yang tersedia di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Saat ini, Bidang Peternakan hanya memiliki 3 SDM ASN, dan Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner hanya memiliki 6 SDM ASN, yang diantaranya terdiri dari 4 ASN dari Jabfung Medik Veteriner dan 1 ASN dari Jabfung Paramedik Veteriner. Jika dibandingkan dengan besarnya potensi populasi ternak dan sebarannya yang mencakup seluruh kecamatan (Tabel 4 dan 5), jumlah SDM ini tentu tidak sebanding dengan beban kerja yang seharusnya ditanggung untuk dapat memajukan subsektor peternakan di Kabupaten ini. Demikian juga sarana prasarana yang tersedia, saat ini hanya tersedia satu RPH dan Puskeswan yang operasionalnya masih terhambat karena kekurangan SDM

F. Kesimpulan

Kabupaten Hulu Sungai Utara adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan dengan potensi peternakan terbesar, didukung dengan lahan rawa lebak yang luas dan kecocokan topografi wilayah sebagai habitat untuk komoditas ternak unggulan, seperti kerbau rawa dan itik. Sebaran jenis populasi ternak hampir merata di seluruh Kecamatan, dengan beberapa kecamatan yang menjadi sentra pengembangan komoditas ternak tertentu, seperti ternak kerbau rawa di Kecamatan Paminggir, ternak itik di Kecamatan Amuntai Selatan, dan Ayam Buras di Kecamatan Babirik. Penyakit hewan yang ditemui di Kabupaten Hulu Sungai Utara terdiri dari penyakit endemis dan non-endemis. Dari 24 penyakit hewan menular yang ditemukan pada populasi hewan ternak di Kabupaten Hulu Sungai Utara, ada tiga penyakit hewan prioritas, yaitu Avian Influenza, Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan Lumpy Skin Disease (LSD). Ketiga penyakit ini memiliki potensi kerugian peternak yang sangat tinggi, baik yang disebabkan oleh tingginya mortalitas dan/atau morbiditas, biaya pengendalian ataupun konsekuensi penurunan harga komoditas. Meskipun memiliki potensi peternakan yang besar, dukungan terhadap subsektor ini masih rendah, baik berupa dukungan anggaran yang terbatas maupun dukungan sumber daya manusia serta sarana dan prasarana Peternakan dan Kesehatan Hewan. Kedepannya diharapkan agar dukungan pemerintah dapat ditingkatkan, agar potensi yang ada bisa lebih ditingkatkan lagi dan dapat mencapai tujuan menjadi pensuplai komoditas ternak untuk Ibukota Nusantara (IKN).


Referensi:

  1. Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPJM) Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015-2019.
  2. Kabupaten Hulu Sungai Utara dalam Angka Tahun 2010.
  3. Dinas Pertanian, 2015
  4. M. Akbar. Mengenal Ayam Murung Panggang, Asli Hulu Sungai Utara, Ternyata Perkawinan dari Ayam Ini – Prokal
  5. Anonim. Observasi Lapang Penetapan Rumpun Ayam Murung Panggang di Kalsel. Badan Penerapan Standar Instrumen Pertanian Kalimantan Selatan. Berita BSIP Kalimantan Selatan – Observasi Lapang Penetapan Rumpun Ayam Murung Panggang di Kalsel
  6. Wandering Whistling-Duck (Dendrocygna arcuata) · iNaturalist
  7. Buku Pedoman Pengelolaan Lahan Rawa Lebak untuk Pertanian Berkelanjutan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian.
  8. Dinas Pertanian. Profiling Belibis, 2017
  9. Fredriksson, G., A. Soeyitno, Yudistira dan Khasmir. 2006. Monitoring perburuan dan perdagangan burung belibis kembang (Dendrocygna arculata) di danau Mahakam Kalimantan Timur, Indonesia, tahun 2005-2006. Borneo Ecology and Biodiversity Conservation Institute (BEBSIC) bekerjasama dengan Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA), Universitas Mulawarman Kalimantan Timur dan Universitas Amsterdam Belanda. bebsic.hijaubiru.com. [3 Maret 2008]
  10. FAO, 2018. FAO Emergency Centre for Transboundary Animal Diseases (ECTAD). Protecting people and animals. Annual report 2017. Jakarta, Indonesia. Licence: CC BY-NC-SA 3.0 IGO.
  11. Badan Pusat Statistik. Hasil Pencacahan Lengkap Sensus Pertanian 2023. Edisi 1. Usaha Pertanian Perorangan (UPP) Peternakan Kabupaten Hulu Sungai Utara.
  12. Badan Pusat Statistik. Provinsi Kalimantan Selatan Dalam Angka Tahun 2024. 
  13. Badan Pusat Statistik. Kabupaten Hulu Sungai Utara Dalam Angka Tahun 2024. 
  14. Hendra Wibawa, Putut Eko Wibowo, Arif Supriyadi, Lestari, Jessiaman Silaban, Aziz Ahmad Fuadi, Anna Januar Fiqri, Retno Wulan Handayani, Sri Handayani Irianingsih, Zaza Fahmia, Herdiyanto Mulyawan, Syafrison Idris, Nuryani Zainuddin. 2024. Highly Pathogenic Avian Influenza A(H5N1) Virus Clade 2.3.4.4b in Domestic Ducks, Indonesia, 2022. Highly Pathogenic Avian Influenza A(H5N1) Virus Clade 2.3.4.4b in Domestic Ducks, Indonesia, 2022 – Volume 30, Number 3—March 2024 – Emerging Infectious Diseases journal – CDC.
  15. WHO, 2022. Rapid risk assessment: Assessment of risk associated with recent avian influenza A (H5N1) clade 2.3.4.4b viruses. h5-risk-assessment-dec-2022.pdf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *