Disusun oleh:

drh. Agna Dinnah Lantria

Medik Veteriner Ahli Muda
Dinas Pertanian, Kabupaten Hulu Sungai Utara


A. Gambaran wilayah

Kabupaten Hulu Sungai Utara adalah sebuah kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan. Secara Geografis terletak pada koordinat 2o 1’37’b – 2º 35’ 58” Lintang Selatan dan 144º 50’ 58” – 115º 50’ 24” Bujur Timur. Luas wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara sebesar 892,7 km2 atau 2,38% dari keseluruhan luas wilayah Provinsi Kalimantan Selatan. Kabupaten ini memiliki wilayah administratif sebanyak 10 kecamatan dan 219 desa/kelurahan.yang dijabarkan dalam tabel 1(1).   

Tabel 1. Daftar Kecamatan dan Luas Wilayah di Kabupaten Hulu Sungai Utara (2)

KecamatanJumlah Desa/KelurahanLuas Wilayah (Km2)Persentase
Danau Panggang16224.4925.15
Paminggir7156.1317.49
Babirik2377.448.67
Sungai Pandan33455.04
Sungai Tabukan1729.243.28
Amuntai Selatan30183.1620.52
Amuntai Tengah29576.39
Banjang20414.59
Amuntai Utara2645.095.05
Haur Gading1834.153.83
Jumlah219892.7100%

Dilihat dari data di atas, kecamatan terluas adalah Kecamatan Danau Panggang, diikuti dengan Kecamatan Amuntai Selatan dan Kec. Paminggir.

Dari luas wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara sebanyak 892,7 km2 atau 89,20 hektar, sebanyak 89% atau 79,45 hektar berupa lahan rawa lebak yang Sebagian besar masih belum dimanfaatkan (3). Kondisi lahan lebak rawa yang berbentuk cekungan, tergenang secara permanen maupun yang tergenang secara periodik. Daerah Hulu Sungai Utara dilalui oleh dua Sungai yang mempengaruhi hidrologi wilayah tesebut, yaitu Sungai Tabalong dan Sungai Balangan yang bertemu di Sungai Negara. Sungai Tabalong juga mengalir sungai kecil yang melewati Kec. Haur Gading menuju Kec. Danau Panggang/Paminggir dan bermuara di Sungai Barito. Aliran ini didukung dengan kemiringan topografi lahan sebesar 0-2 m (1). Sedangkan ketinggian permukaan lahan di Kabupaten Hulu Sungai Utara berkisar antara 0-7 dan 7 -25 m dari permukaan laut (1).

Lahan lebak rawa di Kabupaten Hulu Sungai Utara selain digunakan untuk lahan pertanian, juga digunakan sebagai tempat pemeliharaan ternak, diantaranya untuk dua komoditas plasma nutfah khas wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara, yaitu Itik Alabio dan Kerbau Rawa. Kedua komoditas ini telah lama dibudidayakan dan menjadi salah satu komoditas unggulan peternakan yang telah diakui secara nasional.

B. Komoditas Ternak

Komoditas ternak yang sering dipelihara di lahan lebak rawa adalah ternak unggas, yaitu itik dan ayam, juga burung puyuh. Jenis itik yang dipelihara masyarakat antara lain itik Alabio (Anas platyrhinchos Borneo), itik Peking, itik Mojosari Alabio (MA), itik serati dan entok. Itik Alabio adalah galur ternak itik yang telah diakui sebagai palsma nutfah, bahkan telah dibuatkan memiliki Standar SNI untuk bibit. Sentra penetasan unggas, terutama itik Alabio terdapat di Desa Mamar, Kec. Amuntai Selatan yang sebelumnya pernah ditetapkan menjadi wilayah sumber bibit itik Alabio. Itik Alabio dapat dipelihara sebagai pedaging atau petelur atau keduanya (dual purpose). Meskipun itik Alabio lebih sulit dipelihara daripada jenis itik lainnya karena itik ini mudah mengalami stress yang mempengaruhi produksinya, tetapi terdapat segmen pasar yang masih menyukai jenis itik ini karena rasa dagingnya yang khas. Itik Peking banyak dipelihara sebagai unggas pedaging dan petelur. Pedaging karena pertumbuhannya yang cepat sehingga pemeliharaan relatif singkat, dan petelur karena ukuran telurnya yang relatif lebih besar dari itik lainnya. Itik lain pilihan peternak yang cukup populer adalah Itik MA. Itik ini adalah persilangan antara itik Alabio dan Mojosari. Keunggulan jenis itik ini adalah kecocokannya dengan iklim wilayah setempat dan rendahnya tingkat stress jika dibandingkan dengan Itik Alabio. Itik serati adalah persilangan antara itik betina dan Entok jantan. Itik ini dipelihara sebagai itik petelur. Entok masih sering dipelihara oleh peternak, baik sebagai induk bibit serati ataupun sumber daging. Burung puyuh sempat menjadi idola para peternak di tahun 2020 karena harga telurnya yang tinggi, namun sekarang populasinya sudah berkurang karena keengganan masyarakat untuk memeliharanya sebagai imbas kenaikan harga pakan dan turunnya harga telur puyuh.

Ternak ayam dipelihara di kandang-kandang yang dibangun diatas lahan rawa. Komoditas ayam yang dipelihara antara lain ayam ras pedaging, ayam ras petelur, ayam buras dan ayam kampung. Salah satu ayam buras yang dikembangkan di Kabupaten Hulu Sungai Utara adalah Ayam Murung Panggang. Ayam ini berasal dari Desa Murung Panggang, Kec. Amuntai Selatan. Ayam ini merupakan hasil persilangan antara ayam ras pedaging betina dengan ayam Bangkok Jantan (4). Ayam Murung Panggang memiliki warna bulu hitam, dengan bentuk badan mirip ayam kampung, namun bobot badannya lebih tinggi (bobot ayam dewasa dapat mencapai 4 kg). Saat ini, ayam murung panggang banyak berkembang di Kabupaten HSU, namun belum ditetapkan sebagai rumpun ayam khas Kalimantan Selatan. Pada Bulan Oktober 2024 Badan Penerapan Standar Instrumen Pertanian Kalimantan Selatan telah melakukan observasi lapangan ke Desa Murung Panggang sebagai salah satu tahapan penetapan Ayam Murung Panggang sebagai ayam lokal khas Kabupaten Hulu Sungai Utara pada   (5). Upaya penetapan ini dilakukan untuk menjaga kelestarian varian ras dan menjaga kekhasannya agar tidak diklaim oleh daerah lain.

Komoditas unggas lain yang ada di lahan rawa adalah burung Belibis atau Indonesian whistling duck (Dendrocygnus arcuata arcuata) (6). Habitat burung ini adalah air, dan jarang naik ke darat, sehingga lahan rawa adalah tempat yang cocok untuknya. Belibis adalah unggas air liar yang terbang berpindah-pindah dan bermigrasi untuk mencari makan. Komoditas ini tidak dikembangbiakkan, namun biasanya diburu di tempat-tempat tertentu dimana ia berbiak dan/atau singgah. Periode berbiaknya adalah sekitar bulan Februari/Maret saat air di rawa sedang tinggi, dan bulan September/November saat air sedang rendah (7).  Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Hulu Sungai Utara bersama Balai Veteriner Banjarbaru dan FAO ECTAD Indonesia, salah satu tempat berbiak yang telah dikenali adalah lahan rawa di perbatasan Desa Tampakang di Kecamatan Paminggir dan Desa Kayakah di Kecamatan Amuntai Selatan (8). Nilai ekonomi Belibis yang cukup tinggi menyebabkan tingginya aktivitas perburuan, sehingga memicu kekhawatiran kepunahan burung ini (9). Dari segi kaitannya dengan penyebaran penyakit hewan, burung belibis telah diidentifikasi sebagai reservoir virus Avian Influenza LPAI, subtipe H9N2 (10), yang dikhawatirkan menjadi sumber spillover virus dari burung liar ke ternak unggas domestik.

Selain komoditas unggas, komoditas ternak lain yang dipelihara di lahan rawa adalah Kerbau rawa (Bubalus carabanensis). Kerbau rawa telah dipelihara secara turun temurun oleh para peternak yang berada di Kecamatan Paminggir, Kabupaten Hulu Sungai Utara yang topografinya seluruhnya adalah lahan rawa lebak dalam. Pemeliharaan kerbau ini cukup unik, setiap pagi kerbau akan dilepas dari kandang di atas rawa yang disebut kalang. Kalang adalah kandang sederhana yang terbuat dari balok-balok kayu yang disusun. Kalang biasanya tidak beratap, tetapi ada sebagian dari kalang yang dipartisi dan diberi atap, khusus untuk induk kerbau melahirkan dan untuk memelihara anaknya sampai cukup besar dan bisa dilepas untuk mencari makan sendiri.

Ada juga beberapa kalang yang memasang kelambu untuk melindungi kerbau dari serangan nyamuk rawa. Nyamuk rawa sering menyerang kerbau terutama dimusim saat rumput tumbuh tinggi dan menyebar sampai mendekati kalang.  Setelah mencari makan seharian di lahan rawa sekitar desa, pada sore harinya kerbau rawa kembali ke kandangnya dengan sendirinya. Nilai ekonomi kerbau rawa cukup tinggi, sehingga menjadi menjadi tabungan untuk dapat dijual sewaktu-waktu. Kerbau menjadi jenis ternak ruminansia yang paling banyak dipelihara peternak di Kec. Paminggir, berjumlah kurang lebih 9000 ekor.

Komoditas ruminansia lain yang dipelihara di Kabupaten Hulu Sungai Utara adalah sapi, kambing dan domba. Populasi ternak jenis ini relatif kecil jumlahnya. Sapi dipelihara oleh peternak mandiri dengan tujuan budidaya (breeding) atau penggemukan (fattening). Kambing saat ini menjadi primadona peternak dengan jumlah populasi yang terus bertambah dari tahun ke tahun. Jenis kambing yang sering dipelihara adalah kambing kacang/kambing jawa dan kambing PE. Lahan rawa di Kabupaten Hulu Sungai Utara cocok untuk jenis kambing kacang yang tahan cuaca panas dan tahan terhadap hembusan angin penyebab kembung. Akan tetapi untuk wilayah lain selain rawa, kambing PE lebih disukai karena ukurannya yang lebih besar dan harga jual yang lebih tinggi. Sedangkan domba adalah komoditas ruminansia yang kurang disukai peternak karena pemasarannya yang sulit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *