{"id":543,"date":"2025-10-30T08:14:22","date_gmt":"2025-10-30T08:14:22","guid":{"rendered":"https:\/\/miketan.inovidea.id\/?p=543"},"modified":"2025-10-30T08:29:09","modified_gmt":"2025-10-30T08:29:09","slug":"analisis-potensi-peternakan-di-kabupaten-hulu-sungai-utara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/miketan.inovidea.id\/?p=543","title":{"rendered":"Analisis Potensi Peternakan di Kabupaten Hulu Sungai Utara"},"content":{"rendered":"\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Disusun oleh:<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-superb-addons-author-box\"><div class=\"superbaddons-authorbox superbaddons-authorbox-alignment-left\" style=\"background-color:#F2F2F2;border-radius:10px\"><div class=\"superbaddons-authorbox-left\"><img decoding=\"async\" width=\"96\" class=\"superbaddons-authorbox-avatar\" src=\"https:\/\/miketan.inovidea.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/WhatsApp-Image-2025-01-28-at-14.18.39_80a34e22.jpg\" style=\"border-radius:50%;width:96px\"\/><\/div><div class=\"superbaddons-authorbox-right\"><p class=\"superbaddons-authorbox-authorname\" style=\"color:#444444;font-size:32px;line-height:40px\">drh. Agna Dinnah Lantria<\/p><p class=\"superbaddons-authorbox-authorbio\" style=\"color:#7C7C7C;font-size:14px;line-height:19px\">Medik Veteriner Ahli Muda<br>Dinas Pertanian, Kabupaten Hulu Sungai Utara<\/p><div class=\"superbaddons-authorbox-social-wrapper\"><\/div><\/div><\/div><\/div>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">A. Gambaran wilayah<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kabupaten Hulu Sungai Utara adalah sebuah kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan. Secara Geografis terletak pada koordinat 2<sup>o <\/sup>1\u201937\u2019b \u2013 2\u00ba 35\u2019 58\u201d Lintang Selatan dan 144\u00ba 50\u2019 58\u201d \u2013 115\u00ba 50\u2019 24\u201d Bujur Timur. Luas wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara sebesar 892,7 km<sup>2<\/sup> atau 2,38% dari keseluruhan luas wilayah Provinsi Kalimantan Selatan. Kabupaten ini memiliki wilayah administratif sebanyak 10 kecamatan dan 219 desa\/kelurahan.yang dijabarkan dalam tabel 1(1). &nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tabel 1. Daftar Kecamatan dan Luas Wilayah di Kabupaten Hulu Sungai Utara (2)<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table aligncenter\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tbody><tr><td><strong>Kecamatan<\/strong><\/td><td><strong>Jumlah Desa\/Kelurahan<\/strong><\/td><td><strong>Luas Wilayah (Km<sup>2<\/sup>)<\/strong><\/td><td><strong>Persentase<\/strong><\/td><\/tr><tr><td><strong>Danau Panggang<\/strong><strong><\/strong><\/td><td>16<\/td><td>224.49<\/td><td>25.15<\/td><\/tr><tr><td><strong>Paminggir<\/strong><\/td><td>7<\/td><td>156.13<\/td><td>17.49<\/td><\/tr><tr><td><strong>Babirik<\/strong><strong><\/strong><\/td><td>23<\/td><td>77.44<\/td><td>8.67<\/td><\/tr><tr><td><strong>Sungai Pandan<\/strong><\/td><td>33<\/td><td>45<\/td><td>5.04<\/td><\/tr><tr><td><strong>Sungai Tabukan<\/strong><strong><\/strong><\/td><td>17<\/td><td>29.24<\/td><td>3.28<\/td><\/tr><tr><td><strong>Amuntai Selatan<\/strong><\/td><td>30<\/td><td>183.16<\/td><td>20.52<\/td><\/tr><tr><td><strong>Amuntai Tengah<\/strong><strong><\/strong><\/td><td>29<\/td><td>57<\/td><td>6.39<\/td><\/tr><tr><td><strong>Banjang<\/strong><\/td><td>20<\/td><td>41<\/td><td>4.59<\/td><\/tr><tr><td><strong>Amuntai Utara<\/strong><strong><\/strong><\/td><td>26<\/td><td>45.09<\/td><td>5.05<\/td><\/tr><tr><td><strong>Haur Gading<\/strong><\/td><td>18<\/td><td>34.15<\/td><td>3.83<\/td><\/tr><tr><td><strong>Jumlah<\/strong><strong><\/strong><\/td><td>219<\/td><td>892.7<\/td><td>100%<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dilihat dari data di atas, kecamatan terluas adalah Kecamatan Danau Panggang, diikuti dengan Kecamatan Amuntai Selatan dan Kec. Paminggir.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari luas wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara sebanyak 892,7 km2 atau 89,20 hektar, sebanyak 89% atau 79,45 hektar berupa lahan rawa lebak yang Sebagian besar masih belum dimanfaatkan (3). Kondisi lahan lebak rawa yang berbentuk cekungan, tergenang secara permanen maupun yang tergenang secara periodik. Daerah Hulu Sungai Utara dilalui oleh dua Sungai yang mempengaruhi hidrologi wilayah tesebut, yaitu Sungai Tabalong dan Sungai Balangan yang bertemu di Sungai Negara. Sungai Tabalong juga mengalir sungai kecil yang melewati Kec. Haur Gading menuju Kec. Danau Panggang\/Paminggir dan bermuara di Sungai Barito. Aliran ini didukung dengan kemiringan topografi lahan sebesar 0-2 m (1). Sedangkan ketinggian permukaan lahan di Kabupaten Hulu Sungai Utara berkisar antara 0-7 dan 7 -25 m dari permukaan laut (1).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lahan lebak rawa di Kabupaten Hulu Sungai Utara selain digunakan untuk lahan pertanian, juga digunakan sebagai tempat pemeliharaan ternak, diantaranya untuk dua komoditas plasma nutfah khas wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara, yaitu Itik Alabio dan Kerbau Rawa. Kedua komoditas ini telah lama dibudidayakan dan menjadi salah satu komoditas unggulan peternakan yang telah diakui secara nasional.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">B. Komoditas Ternak<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Komoditas ternak yang sering dipelihara di lahan lebak rawa adalah ternak unggas, yaitu itik dan ayam, juga burung puyuh. Jenis itik yang dipelihara masyarakat antara lain itik Alabio (<em>Anas platyrhinchos<\/em> Borneo), itik Peking, itik Mojosari Alabio (MA), itik serati dan entok. Itik Alabio adalah galur ternak itik yang telah diakui sebagai palsma nutfah, bahkan telah dibuatkan memiliki Standar SNI untuk bibit. Sentra penetasan unggas, terutama itik Alabio terdapat di Desa Mamar, Kec. Amuntai Selatan yang sebelumnya pernah ditetapkan menjadi wilayah sumber bibit itik Alabio. Itik Alabio dapat dipelihara sebagai pedaging atau petelur atau keduanya (<em>dual purpose<\/em>). Meskipun itik Alabio lebih sulit dipelihara daripada jenis itik lainnya karena itik ini mudah mengalami stress yang mempengaruhi produksinya, tetapi terdapat segmen pasar yang masih menyukai jenis itik ini karena rasa dagingnya yang khas. Itik Peking banyak dipelihara sebagai unggas pedaging dan petelur. Pedaging karena pertumbuhannya yang cepat sehingga pemeliharaan relatif singkat, dan petelur karena ukuran telurnya yang relatif lebih besar dari itik lainnya. Itik lain pilihan peternak yang cukup populer adalah Itik MA. Itik ini adalah persilangan antara itik Alabio dan Mojosari. Keunggulan jenis itik ini adalah kecocokannya dengan iklim wilayah setempat dan rendahnya tingkat stress jika dibandingkan dengan Itik Alabio. Itik serati adalah persilangan antara itik betina dan Entok jantan. Itik ini dipelihara sebagai itik petelur. Entok masih sering dipelihara oleh peternak, baik sebagai induk bibit serati ataupun sumber daging. Burung puyuh sempat menjadi idola para peternak di tahun 2020 karena harga telurnya yang tinggi, namun sekarang populasinya sudah berkurang karena keengganan masyarakat untuk memeliharanya sebagai imbas kenaikan harga pakan dan turunnya harga telur puyuh.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"688\" height=\"369\" src=\"https:\/\/miketan.inovidea.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Screenshot-2025-10-30-160419.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-544\" srcset=\"https:\/\/miketan.inovidea.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Screenshot-2025-10-30-160419.png 688w, https:\/\/miketan.inovidea.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Screenshot-2025-10-30-160419-300x161.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 688px) 100vw, 688px\" \/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ternak ayam dipelihara di kandang-kandang yang dibangun diatas lahan rawa. Komoditas ayam yang dipelihara antara lain ayam ras pedaging, ayam ras petelur, ayam buras dan ayam kampung. Salah satu ayam buras yang dikembangkan di Kabupaten Hulu Sungai Utara adalah Ayam Murung Panggang. Ayam ini berasal dari Desa Murung Panggang, Kec. Amuntai Selatan. Ayam ini merupakan hasil persilangan antara ayam ras pedaging betina dengan ayam Bangkok Jantan (4). Ayam Murung Panggang memiliki warna bulu hitam, dengan bentuk badan mirip ayam kampung, namun bobot badannya lebih tinggi (bobot ayam dewasa dapat mencapai 4 kg). Saat ini, ayam murung panggang banyak berkembang di Kabupaten HSU, namun belum ditetapkan sebagai rumpun ayam khas Kalimantan Selatan. Pada Bulan Oktober 2024 Badan Penerapan Standar Instrumen Pertanian Kalimantan Selatan telah melakukan observasi lapangan ke Desa Murung Panggang sebagai salah satu tahapan penetapan Ayam Murung Panggang sebagai ayam lokal khas Kabupaten Hulu Sungai Utara pada&nbsp;&nbsp; (5). Upaya penetapan ini dilakukan untuk menjaga kelestarian varian ras dan menjaga kekhasannya agar tidak diklaim oleh daerah lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Komoditas unggas lain yang ada di lahan rawa adalah burung Belibis atau <em>Indonesian whistling duck<\/em> (<em>Dendrocygnus arcuata<\/em> <em>arcuata<\/em>) (6). Habitat burung ini adalah air, dan jarang naik ke darat, sehingga lahan rawa adalah tempat yang cocok untuknya. Belibis adalah unggas air liar yang terbang berpindah-pindah dan bermigrasi untuk mencari makan. Komoditas ini tidak dikembangbiakkan, namun biasanya diburu di tempat-tempat tertentu dimana ia berbiak dan\/atau singgah. Periode berbiaknya adalah sekitar bulan Februari\/Maret saat air di rawa sedang tinggi, dan bulan September\/November saat air sedang rendah (7). &nbsp;Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Hulu Sungai Utara bersama Balai Veteriner Banjarbaru dan FAO ECTAD Indonesia, salah satu tempat berbiak yang telah dikenali adalah lahan rawa di perbatasan Desa Tampakang di Kecamatan Paminggir dan Desa Kayakah di Kecamatan Amuntai Selatan (8). Nilai ekonomi Belibis yang cukup tinggi menyebabkan tingginya aktivitas perburuan, sehingga memicu kekhawatiran kepunahan burung ini (9). Dari segi kaitannya dengan penyebaran penyakit hewan, burung belibis telah diidentifikasi sebagai reservoir virus Avian Influenza LPAI, subtipe H9N2 (10), yang dikhawatirkan menjadi sumber <em>spillover<\/em> virus dari burung liar ke ternak unggas domestik.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"496\" height=\"315\" src=\"https:\/\/miketan.inovidea.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Screenshot-2025-10-30-160527.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-545\" srcset=\"https:\/\/miketan.inovidea.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Screenshot-2025-10-30-160527.png 496w, https:\/\/miketan.inovidea.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Screenshot-2025-10-30-160527-300x191.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 496px) 100vw, 496px\" \/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain komoditas unggas, komoditas ternak lain yang dipelihara di lahan rawa adalah Kerbau rawa (<em>Bubalus carabanensis<\/em>). Kerbau rawa telah dipelihara secara turun temurun oleh para peternak yang berada di Kecamatan Paminggir, Kabupaten Hulu Sungai Utara yang topografinya seluruhnya adalah lahan rawa lebak dalam. Pemeliharaan kerbau ini cukup unik, setiap pagi kerbau akan dilepas dari kandang di atas rawa yang disebut kalang. Kalang adalah kandang sederhana yang terbuat dari balok-balok kayu yang disusun. Kalang biasanya tidak beratap, tetapi ada sebagian dari kalang yang dipartisi dan diberi atap, khusus untuk induk kerbau melahirkan dan untuk memelihara anaknya sampai cukup besar dan bisa dilepas untuk mencari makan sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada juga beberapa kalang yang memasang kelambu untuk melindungi kerbau dari serangan nyamuk rawa. Nyamuk rawa sering menyerang kerbau terutama dimusim saat rumput tumbuh tinggi dan menyebar sampai mendekati kalang.&nbsp; Setelah mencari makan seharian di lahan rawa sekitar desa, pada sore harinya kerbau rawa kembali ke kandangnya dengan sendirinya. Nilai ekonomi kerbau rawa cukup tinggi, sehingga menjadi menjadi tabungan untuk dapat dijual sewaktu-waktu. Kerbau menjadi jenis ternak ruminansia yang paling banyak dipelihara peternak di Kec. Paminggir, berjumlah kurang lebih 9000 ekor.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"711\" height=\"541\" src=\"https:\/\/miketan.inovidea.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Screenshot-2025-10-30-160645.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-546\" srcset=\"https:\/\/miketan.inovidea.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Screenshot-2025-10-30-160645.png 711w, https:\/\/miketan.inovidea.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Screenshot-2025-10-30-160645-300x228.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 711px) 100vw, 711px\" \/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Komoditas ruminansia lain yang dipelihara di Kabupaten Hulu Sungai Utara adalah sapi, kambing dan domba. Populasi ternak jenis ini relatif kecil jumlahnya. Sapi dipelihara oleh peternak mandiri dengan tujuan budidaya (breeding) atau penggemukan (fattening). Kambing saat ini menjadi primadona peternak dengan jumlah populasi yang terus bertambah dari tahun ke tahun. Jenis kambing yang sering dipelihara adalah kambing kacang\/kambing jawa dan kambing PE. Lahan rawa di Kabupaten Hulu Sungai Utara cocok untuk jenis kambing kacang yang tahan cuaca panas dan tahan terhadap hembusan angin penyebab kembung. Akan tetapi untuk wilayah lain selain rawa, kambing PE lebih disukai karena ukurannya yang lebih besar dan harga jual yang lebih tinggi. Sedangkan domba adalah komoditas ruminansia yang kurang disukai peternak karena pemasarannya yang sulit.<\/p>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">C. Analisis Potensi Peternakan<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kabupaten Hulu Sungai Utara adalah salah satu kabupaten di Kalimantan Selatan yang penduduknya mayoritas memiliki usaha pertanian, diantaranya usaha ternak. Menurut BPS (11), berdasarkan Persentase Usaha Pertanian Perorangan menurut Subsektor, subsektor Peternakan berada pada peringkat tiga dengan 28,29%, dengan peringkat pertama dan kedua diduduki subsektor Tanaman Pangan (55,83%) dan Perikanan (34,54%). Berdasarkan data hasil pencacahan Usaha Pertanian Perorangan (UPP) Peternakan Badan Pusat Statistik Kabupaten Hulu Sungai Utara tahun 2023, terdapat sebanyak 8.733 Rumah Tangga Usaha Pertanian (RTUP) yang memelihara ternak, dan juga terdapat 8.793 Usaha Peternakan Perorangan. Dari keseluruhan jumlah Rumah Tangga Usaha Pertanian sebanyak 26.327, sebanyak 7.693 (29,22%) adalah Usaha Peternakan (11). Sedangkan dari keseluruhan jumlah Usaha Pertanian Perorangan (UTP) sebanyak 27.327, sebanyak 7.731 (28,29%) adalah Usaha Peternakan. Dari kedua kategori usaha pertanian ini, Kecamatan Sungai Pandan adalah Kecamatan dengan jumlah usaha ternak tertinggi, baik di untuk UTP (15,96%) maupun RTUP (16,04%) (Gambar 3 dan 4).<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"730\" height=\"491\" src=\"https:\/\/miketan.inovidea.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Screenshot-2025-10-30-160849.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-547\" srcset=\"https:\/\/miketan.inovidea.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Screenshot-2025-10-30-160849.png 730w, https:\/\/miketan.inovidea.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Screenshot-2025-10-30-160849-300x202.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 730px) 100vw, 730px\" \/><\/figure>\n<\/div>\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"675\" height=\"452\" src=\"https:\/\/miketan.inovidea.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Screenshot-2025-10-30-160931.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-548\" srcset=\"https:\/\/miketan.inovidea.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Screenshot-2025-10-30-160931.png 675w, https:\/\/miketan.inovidea.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/Screenshot-2025-10-30-160931-300x201.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 675px) 100vw, 675px\" \/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Luas lahan yang dipergunakan untuk usaha pertanian di Kabupaten Hulu Sungai Utara cukup besar. Berdasarkan data dari sensus BPS (11), luas lahan yang dikuasai Usaha Pertanian (UTP) dan difungsikan untuk kandang ternak dan bangunan lainnya adalah 30,41 hektar atau setara dengan 0,39% dari luas lahan yang dikuasai untuk semua subsektor usaha pertanian yaitu 7.747 hektar. Sedangkan menurut rata-rata luas lahan yang dikuasai Rumah Tangga Pertanian (RTUP) yang dipergunakan untuk kandang ternak dan bangunan lainnya juga mencapai 0,39% dari keseluruhan rata-rata lahan. Persentase lahan peternakan yang paling banyak dimanfaatkan untuk peternakan adalah di Kecamatan Paminggir, yaitu sebanyak 92,29%, diikuti Kecamatan Amuntai Selatan sebanyak 1,11 %, dan Kecamatan Sungai Pandan sebanyak 0,74%. Selain lahan yang dipergunakan untuk bangunan kandang, juga terdapat lahan pertanian berupa padang rumput, baik yang permanen maupun sementara yang bisa dipergunakan sebagai tempat mengambil rumput untuk pakan ataupun tempat penggembalaan ternak ruminansia seluas 1.523,54 hektar padang rumput permanen dan 157,9 hektar padang rumput sementara (masing-masing 19,66% dan 2,04% dari total lahan dikuasai). Sebanyak 5.076,10 hektar (65,2% dari lahan dikuasai) lahan pertanian di Kabupaten Hulu Sungai Utara difungsikan sebagai sawah yang digarap masyarakat. Lahan sawah sering dipergunakan peternak untuk melepas ternak itik nya untuk mencari makan, terutama itik muda dibawah umur bertelur. Selain mengurangi beban biaya pemeliharaan, melepaskan itik ke areal persawahan juga dipandang membantu petani untuk membasmi hama padi, seperti serangga dan siput. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meskipun begitu, itik-itik yang dilepaskan ke sawah untuk mencari makan berada dalam resiko tinggi terpapar penyakit. Selain penyakit yang didapat dari lingkungan, seperti lumpuh karena keracunan karena memakan bahan-bahan busuk di air yang tergenang, itik juga rentan terhadap penyebaran penyakit menular, terutama virus flu burung. Seperti diketahui, burung Belibis dapat bertindak sebagai reservoir virus flu burung dari alam. Wilayah lahan rawa adalah tempat ideal dimana unggas baik domestik maupun liar bertemu, sehingga dapat menjadi titik paparan virus flu burung dari alam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tabel 2. Luas lahan yang dikuasai Usaha Pertanian Perorangan (UTP) Peternakan menurut Kecamatan Domisili Pengelola (Sumber: BPS Kab. Hulu Sungai Utara).<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table aligncenter\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tbody><tr><td><strong><em>Kecamatan<\/em><\/strong><strong><em><\/em><\/strong><\/td><td><strong>Lahan dikuasai<\/strong><strong><\/strong><\/td><td><strong>Lahan pertanian yang difungsikan untuk Kandang ternak dan Bangunan lainnya<\/strong><strong><\/strong><\/td><td><strong>Persentase lahan peternakan dibanding luas lahan yang dikuasai<\/strong><strong><\/strong><\/td><\/tr><tr><td><em>&nbsp;<\/em><\/td><td>m<sup>2<\/sup><\/td><td>m<sup>2<\/sup><\/td><td>%<\/td><\/tr><tr><td><em>Danau Panggang<\/em><em><\/em><\/td><td>7090551,6<\/td><td>20653,7<\/td><td>0,29<\/td><\/tr><tr><td><em>Paminggir<\/em><em><\/em><\/td><td>53581<\/td><td>49449<\/td><td>92,29<\/td><\/tr><tr><td><em>Babirik<\/em><em><\/em><\/td><td>5090877,25<\/td><td>11293<\/td><td>0,22<\/td><\/tr><tr><td><em>Sungai Pandan<\/em><em><\/em><\/td><td>9925152,75<\/td><td>73375,25<\/td><td>0,74<\/td><\/tr><tr><td><em>Sungai Tabukan<\/em><em><\/em><\/td><td>4072994<\/td><td>6750<\/td><td>0,17<\/td><\/tr><tr><td><em>Amuntai Selatan<\/em><em><\/em><\/td><td>4212359,64<\/td><td>46778<\/td><td>1,11<\/td><\/tr><tr><td><em>Amuntai Tengah<\/em><em><\/em><\/td><td>23004163,98<\/td><td>35894,27<\/td><td>0,16<\/td><\/tr><tr><td><em>Banjang<\/em><em><\/em><\/td><td>9166395,75<\/td><td>28928<\/td><td>0,32<\/td><\/tr><tr><td><em>Amuntai Utara<\/em><em><\/em><\/td><td>9038327<\/td><td>10192<\/td><td>0,11<\/td><\/tr><tr><td><em>Haur Gading<\/em><em><\/em><\/td><td>5824477<\/td><td>20788<\/td><td>0,36<\/td><\/tr><tr><td><em>Hulu Sungai Utara<\/em><em><\/em><\/td><td>77478879,97<\/td><td>304101,22<\/td><td>0,39<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tabel 3. Rata-rata luas lahan yang dikuasai Rumah Tangga Usaha Pertanian (RTUP) Peternakan menurut Kecamatan Domisili Pengelola (Sumber: BPS Kab. Hulu Sungai Utara).<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table aligncenter\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tbody><tr><td><strong><em>Kecamatan<\/em><\/strong><strong><em><\/em><\/strong><\/td><td><strong>Lahan dikuasai<\/strong><strong><\/strong><\/td><td><strong>Lahan pertanian yang difungsikan untuk Kandang ternak dan Bangunan lainnya<\/strong><strong><\/strong><\/td><td><strong>Persentase lahan peternakan dibanding luas lahan yang dikuasai<\/strong><strong><\/strong><\/td><\/tr><tr><td><em>&nbsp;<\/em><\/td><td>m<sup>2<\/sup><\/td><td>m<sup>2<\/sup><\/td><td>%<\/td><\/tr><tr><td><em>Danau Panggang<\/em><em><\/em><\/td><td>3301,00<\/td><td>9,62<\/td><td>0,29<\/td><\/tr><tr><td><em>Paminggir<\/em><em><\/em><\/td><td>102,06<\/td><td>94,19<\/td><td>92,29<\/td><\/tr><tr><td><em>Babirik<\/em><em><\/em><\/td><td>2332,06<\/td><td>5,17<\/td><td>0,22<\/td><\/tr><tr><td><em>Sungai Pandan<\/em><em><\/em><\/td><td>2,776,27<\/td><td>20,52<\/td><td>0,74<\/td><\/tr><tr><td><em>Sungai Tabukan<\/em><em><\/em><\/td><td>2787,81<\/td><td>4,62<\/td><td>0,17<\/td><\/tr><tr><td><em>Amuntai Selatan<\/em><em><\/em><\/td><td>2034,96<\/td><td>22,60<\/td><td>1,11<\/td><\/tr><tr><td><em>Amuntai Tengah<\/em><em><\/em><\/td><td>10856,14<\/td><td>16,94<\/td><td>0,16<\/td><\/tr><tr><td><em>Banjang<\/em><em><\/em><\/td><td>3851,43<\/td><td>12,15<\/td><td>0,32<\/td><\/tr><tr><td><em>Amuntai Utara<\/em><em><\/em><\/td><td>3054,52<\/td><td>3,44<\/td><td>0,11<\/td><\/tr><tr><td><em>Haur Gading<\/em><em><\/em><\/td><td>3055,86<\/td><td>10,91<\/td><td>0,36<\/td><\/tr><tr><td><em>Hulu Sungai Utara<\/em><em><\/em><\/td><td>3633,07<\/td><td>14,26<\/td><td>0,39<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari segi populasi ternak, Kabupaten Hulu Sungai Utara adalah salah satu daerah sentra peternakan dengan populasi ternak terbanyak di Provinsi Kalimantan Selatan. Menurut data BPS Provinsi Kalimantan Selatan (12), dua komoditas unggulan peternakan yaitu Itik (termasuk Entok) dan Kerbau Rawa yang dipelihara di Kabupaten Hulu Sungai Utara menempati posisi pertama populasi terbanyak di Kalimantan Selatan. Populasi itik dan Entok pada tahun 2021 mencapai 927.785 ekor (22,5% dari total populasi itik di Provinsi Kalimatan Selatan) dan tahun 2022 naik menjadi 959.756 ekor (28,34% dari total populasi itik di Provinsi Kalimantan Selatan). Sedangkan populasi kerbau rawa mencapai 9.132 ekor di tahun 2021 dan naik menjadi 9.143 ekor di tahun 2022 (masing-masing 45,47% dan 46,05% dari total populasi kerbau di Provinsi Kalimantan Selatan). &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika ditinjau dari segi populasi ternak di dalam Kabupaten Hulu Sungai Utara, kegiatan usaha peternakan sangat marak dilakukan, dengan jumlah populasi total dari delapan komoditas terukur (ayam pedaging, ayam ras petelur, ayam buras, itik, sapi, kerbau dan domba) sebanyak 3.522.953 ekor di tahun 2023 (13). Kecamatan dengan populasi ternak terbanyak adalah Kecamatan Amuntai Utara yaitu sebanyak 830.539 ekor (23,58%). Kecamatan Amuntai Utara juga merupakan kecamatan dengan jumlah Ayam Ras Pedaging, sebanyak 693.500 ekor (34,26%). Namun, karena ayam ras pedaging merupakan komoditas yang sangat dinamis perkembangan populasinya dan bentuk usahanya kebanyakan berupa kemitraan dengan perusahaan peternakan yang semua kegiatan terkait manajemen peternakan dan kesehatan hewannya ditangani oleh stakeholder swasta, maka dalam konteks pelayanan dinas merupakan komoditas yang dikecualikan dari perhitungan populasi yang mendapat prioritas. Sehingga jika mengecualikan populasi Ayam Ras Pedaging, maka Kecamatan dengan populasi ternak terbanyak di Kabupaten Hulu Sungai Utara adalah Kecamatan Amuntai Selatan sebanyak 433.153 ekor (12,295%), yang juga adalah penyumbang terbanyak populasi ternak itik di Kabupaten Hulu Sungai Utara, yaitu sebanyak 383.158 ekor (42,96% dari populasi itik di Kabupaten Hulu Sungai Utara). Kecamatan Sungai Pandan adalah Kecamatan dengan populasi ternak terbesar kedua setelah Kecamatan Amuntai Selatan, dengan jumlah total populasi sebesar 205.871 ekor (5,84%), dan Kecamatan Amuntai Utara di posisi ketiga dengan total populasi ternak (diluar ternak ayam ras pedaging) sebesar 137.039 ekor (3,89%).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika dijabarkan lebih lanjut jumlah populasi berdasarkan jenis ternak yang dipelihara, maka Kabupaten Hulu Sungai Utara memiliki beberapa kecamatan dengan populasi ternak tertentu yang dipelihara melebihi jumlah populasi kecamatan lain (13). Hal ini karena topografi dan karakteristik wilayah yang cocok untuk pengembangan komoditas ternak tertentu. Misalnya untuk komoditas ternak Kerbau Rawa, Kecamatan Paminggir adalah sentra produksi kerbau rawa dengan jumlah 9.057 ekor atau 96,12% dari total populasi kerbau rawa yang ada di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Hal yang sama juga didapati pada Komoditas itik, yang berpusat di Kecamatan Amuntai Selatan, dengan jumlah populasi sebesar 383.158 ekor atau 42,96% dari total populasi itik yang dipelihara di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Keadaan ini didukung pula dengan adanya Desa Mamar di Kecamatan Amuntai Selatan sebagai wilayah sumber bibit ternak Itik Alabio. Sedangkan untuk komoditas Ayam buras, termasuk ayam kampung, berpusat di Kecamatan Babirik dengan populasi sebesar 119.921 ekor atau 20,41% dari total populasi Ayam Buras di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Sentra peternakan ayam buras di Kecamatan Babirik berada di Desa Kalumpang Dalam yang secara geografis merupakan desa terisolir yang cocok untuk peternakan ayam di atas rawa.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tabel 4. Jumlah Ternak Besar dan Ternak Kecil (ekor) menurut Kecamatan dan Jenis Ternak di Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2023 (13).<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table aligncenter\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tbody><tr><td><strong><em>Kecamatan<\/em><\/strong><strong><em><\/em><\/strong><\/td><td><strong>Sapi<\/strong><strong><\/strong><\/td><td><strong>Kerbau<\/strong><strong><\/strong><\/td><td><strong>Kambing<\/strong><strong><\/strong><\/td><td><strong>Domba<\/strong><strong><\/strong><\/td><\/tr><tr><td><em>Danau Panggang<\/em><em><\/em><\/td><td>8<\/td><td>116<\/td><td>59<\/td><td>&#8211;<\/td><\/tr><tr><td><em>Paminggir<\/em><em><\/em><\/td><td>8<\/td><td>9.057<\/td><td>16<\/td><td>&#8211;<\/td><\/tr><tr><td><em>Babirik<\/em><em><\/em><\/td><td>15<\/td><td>6<\/td><td>20<\/td><td>&#8211;<\/td><\/tr><tr><td><em>Sungai Pandan<\/em><em><\/em><\/td><td>288<\/td><td>45<\/td><td>98<\/td><td>8<\/td><\/tr><tr><td><em>Sungai Tabukan<\/em><em><\/em><\/td><td>2<\/td><td>5<\/td><td>17<\/td><td>&#8211;<\/td><\/tr><tr><td><em>Amuntai Selatan<\/em><em><\/em><\/td><td>76<\/td><td>27<\/td><td>135<\/td><td>7<\/td><\/tr><tr><td><em>Amuntai Tengah<\/em><em><\/em><\/td><td>170<\/td><td>127<\/td><td>78<\/td><td>13<\/td><\/tr><tr><td><em>Banjang<\/em><em><\/em><\/td><td>65<\/td><td>23<\/td><td>176<\/td><td>23<\/td><\/tr><tr><td><em>Amuntai Utara<\/em><em><\/em><\/td><td>15<\/td><td>8<\/td><td>35<\/td><td>&#8211;<\/td><\/tr><tr><td><em>Haur Gading<\/em><em><\/em><\/td><td>3<\/td><td>9<\/td><td>&#8211;<\/td><td>&#8211;<\/td><\/tr><tr><td><em>Hulu Sungai Utara<\/em><em><\/em><\/td><td>650<\/td><td>9.423<\/td><td>634<\/td><td>51<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tabel 5. Jumlah Ternak Unggas (ekor) menurut Kecamatan dan Jenis Ternak di Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2023 (13).<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table aligncenter\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tbody><tr><td><strong><em>Kecamatan<\/em><\/strong><strong><em><\/em><\/strong><\/td><td><strong>Ayam Ras Pedaging<\/strong><strong><\/strong><\/td><td><strong>Ayam Ras Petelur<\/strong><strong><\/strong><\/td><td><strong>Ayam Buras<\/strong><strong><\/strong><\/td><td><strong>Itik<\/strong><strong><\/strong><\/td><\/tr><tr><td><em>Danau Panggang<\/em><em><\/em><\/td><td>36.800<\/td><td>&#8211;<\/td><td>153.357<\/td><td>52.026<\/td><\/tr><tr><td><em>Paminggir<\/em><em><\/em><\/td><td>&#8211;<\/td><td>&#8211;<\/td><td>2.828<\/td><td>669<\/td><\/tr><tr><td><em>Babirik<\/em><em><\/em><\/td><td>24.800<\/td><td>200<\/td><td>119.921<\/td><td>8.933<\/td><\/tr><tr><td><em>Sungai Pandan<\/em><em><\/em><\/td><td>271.800<\/td><td>300<\/td><td>64.473<\/td><td>140.659<\/td><\/tr><tr><td><em>Sungai Tabukan<\/em><em><\/em><\/td><td>131.800<\/td><td>&#8211;<\/td><td>31.729<\/td><td>42.278<\/td><\/tr><tr><td><em>Amuntai Selatan<\/em><em><\/em><\/td><td>266.800<\/td><td>2.831<\/td><td>46.919<\/td><td>383.158<\/td><\/tr><tr><td><em>Amuntai Tengah<\/em><em><\/em><\/td><td>224.720<\/td><td>5.250<\/td><td>20.259<\/td><td>131.285<\/td><\/tr><tr><td><em>Banjang<\/em><em><\/em><\/td><td>201.800<\/td><td>&#8211;<\/td><td>31.445<\/td><td>46.726<\/td><\/tr><tr><td><em>Amuntai Utara<\/em><em><\/em><\/td><td>693.500<\/td><td>&#8211;<\/td><td>88.383<\/td><td>48.598<\/td><\/tr><tr><td><em>Haur Gading<\/em><em><\/em><\/td><td>172.100<\/td><td>&#8211;<\/td><td>28.264<\/td><td>37.584<\/td><\/tr><tr><td><em>Hulu Sungai Utara<\/em><em><\/em><\/td><td>2.024.120<\/td><td>8.581<\/td><td>587.578<\/td><td>891.916<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">D. Situasi Kesehatan Hewan<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penyakit hewan yang saat ini ditemukan di Kabupaten Hulu Sungai Utara terdiri dari penyakit hewan endemik dan penyakit hewan yang baru saja masuk ke wilayah ini. Penyakit endemik yang masih ada dan biasa menyerang pada musim tertentu bervariasi tergantung komoditas ternak (Tabel 6). Beberapa dari penyakit endemis ini pada awalnya tidak ditemukan di wilayah ini, namun setelah masuknya penyakit tersebut untuk pertama kalinya, penyakit itu akhirnya menjadi endemis setelah terjadinya wabah yang berulang. Salah satu diantaranya adalah penyakit Avian Influenza (HPAI H5N1). Penyakit endemis lainnya cenderung lebih sedikit kejadian kasusnya, namun pada situasi-situasi tertentu dapat menjadi wabah jika terjadi keadaan yang mendukung.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semenjak kemunculan penyakit Avian Influenza di Indonesia di tahun 2003, penyakit ini tidak ditemukan di Kabupaten Hulu Sungai Utara sebelum tahun 2006. Ketika itu clade HN51 yang ditemukan adalah clade 2.1 yang menyebabkan wabah pertama HPAI pada ternak ayam di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Beberapa tahun kemudian, di tahun 2014-2015 terjadi wabah HPAI kedua yang disebabkan clade baru 2.3.2 yang menyerang ternak itik. Selama beberapa tahun kemudian, terjadi letupan-letupan kecil kejadian penyakit HPAI baik pada itik maupun ayam setiap tahunnya, sampai kemudian virus ini telah menjadi endemik. Sekarang gelombang penyakit HPAI telah dapat diprediksi secara musiman. Kemunculannya dapat diprediksikan mulai dari Bulan Oktober-November pada awal musim hujan, mencapai puncak pada bulan Januari-Maret saat curah hujan tinggi, dan akan menurun di Bulan April. Sampai saat ini, meskipun penyakit HPAI H5N1 diketahui berpotensi zoonosis, virus ini belum pernah ditemukan menjangkiti manusia di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Meskipun begitu, telah ditemukan clade HPAI H5N1 baru, yaitu clade 2.3.4.4b dari sampel yang diambil dari di Kabupaten Hulu Sungai Utara pada bulan April tahun 2022 (14). <em>World Health Oganization<\/em> (WHO) dalam rilis dokumen <em>rapid risk assessment<\/em> telah mengumumkan bahwa terdapat dua kasus fatal yang disebabkan oleh clade HPAI H5N1 baru ini di Benua Asia (15). Walaupun tidak ditemukan penularan langsung dari manusia ke manusia, WHO tetap memberikan peringatan untuk mewaspadai penularan dari hewan ke manusia, terutama dari hewan ternak yang dipelihara manusia. Selain virus HPAI H5N1, dalam penelitian yang dilakukan oleh FAO ECTAD Indonesia pada tahun 2018 di Kabupaten Hulu Sungai Utara, juga ditemukan virus LPAI H9N2 pada burung Belibis (10). Meskipun belum ada bukti secara laboratoris, telah dapat diduga bahwa virus ini mungkin telah beredar pada populasi ternak itik yang dipelihara di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Dalam beberapa tahun terakhir telah muncul beberapa kasus avian influenza dengan mortalitas sangat rendah antara 0 \u2013 0,5%, namun mampu menurunkan produksi telur sampai 0%. Dengan begitu dinamisnya variasi gejala klinis yang bisa jadi disebabkan bukan hanya satu jenis virus saja, sangat diperlukan upaya surveilans yang berkelanjutan dengan didukung diagnosa laboratorik sebagai penentu diagnosa penyakit. &nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tabel 6. Daftar Penyakit Hewan Endemik dan Non-Endemik yang pernah ditemukan di Kabupaten Hulu Sungai Utara<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table aligncenter\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tbody><tr><td><strong>&nbsp;<\/strong><\/td><td colspan=\"6\"><strong>Komoditas ternak<\/strong><strong><\/strong><\/td><\/tr><tr><td><strong>&nbsp;<\/strong><\/td><td>Sapi<\/td><td>Kerbau<\/td><td>Kambing<\/td><td>Ayam<\/td><td>Itik<\/td><td>&nbsp;<\/td><\/tr><tr><td rowspan=\"3\"><strong>Jenis penyakit endemik<\/strong><\/td><td>Helminthiasis<\/td><td>Surra\/ trypanosimiasis<\/td><td>Scabies<\/td><td>Avian influenza<\/td><td>Avian influenza<\/td><td>&nbsp;<\/td><\/tr><tr><td>PMK<\/td><td>Fasciolosis<\/td><td>Pink Eye<\/td><td>Newcastle disease<\/td><td>Newcastle disease<\/td><td>&nbsp;<\/td><\/tr><tr><td>Surra<\/td><td>Septicaemia Epizootica<\/td><td>Orf<\/td><td>Coryza\/Snot<\/td><td>Coryza\/Snot<\/td><td>&nbsp;<\/td><\/tr><tr><td><strong>&nbsp;<\/strong><\/td><td>LSD<\/td><td>Clostridiasis\/ Infectious necrotic hepatitis<\/td><td>Toxoplasmosis<\/td><td>CRD<\/td><td>CRD<\/td><td>&nbsp;<\/td><\/tr><tr><td><strong>&nbsp;<\/strong><\/td><td>BEF<\/td><td>PMK<\/td><td>Pneumonia<\/td><td>Helminthiasis<\/td><td>Pullorum<\/td><td>&nbsp;<\/td><\/tr><tr><td><strong>&nbsp;<\/strong><\/td><td>Enteritis<\/td><td>Pink eye<\/td><td>&nbsp;<\/td><td>Colibacillosis<\/td><td>Kolera unggas<\/td><td>&nbsp;<\/td><\/tr><tr><td><strong>&nbsp;<\/strong><\/td><td>Jembrana<\/td><td>Enteritis<\/td><td>&nbsp;<\/td><td>Pullorum<\/td><td>&nbsp;<\/td><td>&nbsp;<\/td><\/tr><tr><td><strong>&nbsp;<\/strong><\/td><td>&nbsp;<\/td><td>&nbsp;<\/td><td>&nbsp;<\/td><td>Kolera Unggas<\/td><td>&nbsp;<\/td><td>&nbsp;<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selama beberapa tahun terakhir, terdapat beberapa penyakit hewan baru yang masuk ke wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara, yaitu Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan Lumpy Skin Disease (LSD). PMK pertama kali masuk ke Kabupaten Hulu Sungai Utara di tahun 2022 dan menyerang sapi bali milik peternak di Desa Penyiuran, Kecamatan Sungai Pandan. Penyebab masuknya virus ini diduga berasal dari kambing <em>carrier<\/em> yang dipelihara di kandang yang berdekatan dengan kandang sapi yang terkena. Pada saat itu kejadian penyakit yang muncul berhasil dilokalisir di tempat kemunculannya sehingga tidak menyebar lebih lanjut. Penyakit ini kemudian muncul kembali di tahun 2024 di Desa Tampakang, Kec. Paminggir. Sumber masuknya penyakit PMK kali ini berasal dari lalu lintas kerbau yang berasal dari luar Kabupaten Hulu Sungai Utara. Meskipun pada saat ini kejadian penyakit PMK telah berhasil dikendalikan, agaknya penyakit ini telah menjadi endemik, sehingga diperlukan program pencegahan yang terus menerus, diantaranya dengan vaksinasi PMK rutin pada hewan rentan. Penyakit LSD masuk ke Kabupaten Hulu Sungai Utara pada tahun 2024, diawali dengan satu kasus terisolir di Desa Pulau Damar, Kec. Banjang. Kasus ini bermula lagi-lagi karena mudahnya lalu lintas ternak antar kabupaten. Memang jika ditinjau secara geografis, antara satu kabupaten dengan kabupaten lainnya yang berdekatan di Provinsi Kalimantan Selatan tidak ada barrier bentang alam yang dapat menjadi pembatas antar kabupaten. Selain itu juga kemudahan transportasi antar kabupaten juga menjadi penyebabnya. Melihat pada sejarah penyakit PMK dan LSD di Kabupaten Hulu Sungai Utara, telah menjadi jelas bahwa lalu lintas ternak masih menjadi penyebab utama penularan penyakit hewan antar wilayah kabupaten. Dengan berbagai keterbatasan dalam upaya pengawasan pengiriman ternak dan upaya meningkatkan wawasan dan kesadaran masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit hewan, diperlukan dukungan berbagai fasilitas penunjang, baik berupa dukungan anggaran, sumber daya manusia, maupun sarana dan prasarana kesehatan hewan yang memadai. &nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">E. Ketersediaan SDM dan Sarana Prasarana<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meskipun potensi sektor peternakan dapat dikatakan sangat besar, dukungan pemerintah terhadap subsektor ini masih belum maksimal. Hal ini dapat terlihat dari jumlah SDM dan sarana prasarana pendukung yang tersedia di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Saat ini, Bidang Peternakan hanya memiliki 3 SDM ASN, dan Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner hanya memiliki 6 SDM ASN, yang diantaranya terdiri dari 4 ASN dari Jabfung Medik Veteriner dan 1 ASN dari Jabfung Paramedik Veteriner. Jika dibandingkan dengan besarnya potensi populasi ternak dan sebarannya yang mencakup seluruh kecamatan (Tabel 4 dan 5), jumlah SDM ini tentu tidak sebanding dengan beban kerja yang seharusnya ditanggung untuk dapat memajukan subsektor peternakan di Kabupaten ini. Demikian juga sarana prasarana yang tersedia, saat ini hanya tersedia satu RPH dan Puskeswan yang operasionalnya masih terhambat karena kekurangan SDM<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">F. Kesimpulan<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kabupaten Hulu Sungai Utara adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan dengan potensi peternakan terbesar, didukung dengan lahan rawa lebak yang luas dan kecocokan topografi wilayah sebagai habitat untuk komoditas ternak unggulan, seperti kerbau rawa dan itik. Sebaran jenis populasi ternak hampir merata di seluruh Kecamatan, dengan beberapa kecamatan yang menjadi sentra pengembangan komoditas ternak tertentu, seperti ternak kerbau rawa di Kecamatan Paminggir, ternak itik di Kecamatan Amuntai Selatan, dan Ayam Buras di Kecamatan Babirik. Penyakit hewan yang ditemui di Kabupaten Hulu Sungai Utara terdiri dari penyakit endemis dan non-endemis. Dari 24 penyakit hewan menular yang ditemukan pada populasi hewan ternak di Kabupaten Hulu Sungai Utara, ada tiga penyakit hewan prioritas, yaitu Avian Influenza, Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan Lumpy Skin Disease (LSD). Ketiga penyakit ini memiliki potensi kerugian peternak yang sangat tinggi, baik yang disebabkan oleh tingginya mortalitas dan\/atau morbiditas, biaya pengendalian ataupun konsekuensi penurunan harga komoditas. Meskipun memiliki potensi peternakan yang besar, dukungan terhadap subsektor ini masih rendah, baik berupa dukungan anggaran yang terbatas maupun dukungan sumber daya manusia serta sarana dan prasarana Peternakan dan Kesehatan Hewan. Kedepannya diharapkan agar dukungan pemerintah dapat ditingkatkan, agar potensi yang ada bisa lebih ditingkatkan lagi dan dapat mencapai tujuan menjadi pensuplai komoditas ternak untuk Ibukota Nusantara (IKN).<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Referensi: <\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Rencana Terpadu dan Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah (RPJM) Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2015-2019.<\/li>\n\n\n\n<li>Kabupaten Hulu Sungai Utara dalam Angka Tahun 2010.<\/li>\n\n\n\n<li>Dinas Pertanian, 2015<\/li>\n\n\n\n<li>M. Akbar. <a href=\"https:\/\/www.prokal.co\/kalimantan-selatan\/1775258920\/mengenal-ayam-murung-panggang-asli-hulu-sungai-utara-ternyata-perkawinan-dari-ayam-ini\">Mengenal Ayam Murung Panggang, Asli Hulu Sungai Utara, Ternyata Perkawinan dari Ayam Ini &#8211; Prokal<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>Anonim. Observasi Lapang Penetapan Rumpun Ayam Murung Panggang di Kalsel. Badan Penerapan Standar Instrumen Pertanian Kalimantan Selatan. <a href=\"https:\/\/kalsel.bsip.pertanian.go.id\/berita\/observasi-lapang-penetapan-rumpun-ayam-murung-panggang-di-kalsel\">Berita BSIP Kalimantan Selatan &#8211; Observasi Lapang Penetapan Rumpun Ayam Murung Panggang di Kalsel<\/a><\/li>\n\n\n\n<li><a href=\"https:\/\/www.inaturalist.org\/taxa\/6896-Dendrocygna-arcuata\">Wandering Whistling-Duck (Dendrocygna arcuata) \u00b7 iNaturalist<\/a><\/li>\n\n\n\n<li>Buku Pedoman Pengelolaan Lahan Rawa Lebak untuk Pertanian Berkelanjutan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian.<\/li>\n\n\n\n<li>Dinas Pertanian. Profiling Belibis, 2017<\/li>\n\n\n\n<li>Fredriksson, G., A. Soeyitno, Yudistira dan Khasmir. 2006. Monitoring perburuan dan perdagangan burung belibis kembang (Dendrocygna arculata) di danau Mahakam Kalimantan Timur, Indonesia, tahun 2005-2006. Borneo Ecology and Biodiversity Conservation Institute (BEBSIC) bekerjasama dengan Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA), Universitas Mulawarman Kalimantan Timur dan Universitas Amsterdam Belanda. bebsic.hijaubiru.com. [3 Maret 2008]<\/li>\n\n\n\n<li>FAO, 2018. FAO Emergency Centre for Transboundary Animal Diseases (ECTAD). Protecting people and animals. Annual report 2017. Jakarta, Indonesia. Licence: CC BY-NC-SA 3.0 IGO.<\/li>\n\n\n\n<li>Badan Pusat Statistik. Hasil Pencacahan Lengkap Sensus Pertanian 2023. Edisi 1. Usaha Pertanian Perorangan (UPP) Peternakan Kabupaten Hulu Sungai Utara.<\/li>\n\n\n\n<li>Badan Pusat Statistik. Provinsi Kalimantan Selatan Dalam Angka Tahun 2024.&nbsp;<\/li>\n\n\n\n<li>Badan Pusat Statistik. Kabupaten Hulu Sungai Utara Dalam Angka Tahun 2024.&nbsp;<\/li>\n\n\n\n<li>Hendra Wibawa, Putut Eko Wibowo, Arif Supriyadi, Lestari, Jessiaman Silaban, Aziz Ahmad Fuadi, Anna Januar Fiqri, Retno Wulan Handayani, Sri Handayani Irianingsih, Zaza Fahmia, Herdiyanto Mulyawan, Syafrison Idris, Nuryani Zainuddin. 2024. Highly Pathogenic Avian Influenza A(H5N1) Virus Clade 2.3.4.4b in Domestic Ducks, Indonesia, 2022. <a href=\"https:\/\/wwwnc.cdc.gov\/eid\/article\/30\/3\/23-0973_article\">Highly Pathogenic Avian Influenza A(H5N1) Virus Clade 2.3.4.4b in Domestic Ducks, Indonesia, 2022 &#8211; Volume 30, Number 3\u2014March 2024 &#8211; Emerging Infectious Diseases journal &#8211; CDC<\/a>.<\/li>\n\n\n\n<li>WHO, 2022. Rapid risk assessment: Assessment of risk associated with recent avian influenza A (H5N1) clade 2.3.4.4b viruses. <a href=\"https:\/\/cdn.who.int\/media\/docs\/default-source\/influenza\/avian-and-other-zoonotic-influenza\/h5-risk-assessment-dec-2022.pdf?sfvrsn=a496333a_1&amp;download=true\">h5-risk-assessment-dec-2022.pdf<\/a><\/li>\n<\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Disusun oleh: A. Gambaran wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara adalah sebuah kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan. Secara Geografis terletak pada koordinat 2o 1\u201937\u2019b \u2013 2\u00ba 35\u2019 58\u201d Lintang Selatan dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":552,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4,5,8],"tags":[71,70,69],"class_list":["post-543","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ruminansia-besar","category-ruminansia-kecil","category-unggas","tag-hulu-sungai-utara","tag-kabupaten","tag-potensi-peternakan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/miketan.inovidea.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/543","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/miketan.inovidea.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/miketan.inovidea.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/miketan.inovidea.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/miketan.inovidea.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=543"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/miketan.inovidea.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/543\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":560,"href":"https:\/\/miketan.inovidea.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/543\/revisions\/560"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/miketan.inovidea.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/552"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/miketan.inovidea.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=543"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/miketan.inovidea.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=543"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/miketan.inovidea.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=543"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}